“Saat diamnya penjual es teh mampu menjatuhkan sosok pendakwah yang sombong. Maka di situlah Allah munculkan the power of netizen.”
Video viral yang kini beredar mengenai penjual es teh menjadi sorotan tajam bagi netizen. Hal itu terjadi karena adanya perundungan verbal di ruang publik oleh sosok yang namanya tersematkan ‘Gus’. Situasi tersebut semakin memanas, saat video lainnya juga muncul dan menampilkan hal serupa di mana sosok yang bernama Miftah Maulana Habiburrohman, atau lebih dikenal dengan Gus Miftah, adalah seorang mubaligh dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman melontarkan kata-kata yang kasar pada lawan bicaranya.
Adab dulu baru ilmu adalah Al adabu Fauqol 'ilmi. Pepatah ini mengandung makna bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Hal ini kembali menjadi nasehat terbaik bagi kita dalam berinteraksi di masyarakat. Sebab mulutmu adalah harimaumu menjadi senjata mematikan yang dapat membunuh siapa saja, bagi mereka yang tak mampu menahan diri berucap kasar dan mengumpat di ruang publik. Maka siapa yang menanam, dia yang akan menuai. Bahwa apa yang ditanam, baik kebaikan maupun kejelekan, akan dipanen. Alhasil Jumat (6/12) siang, muncul petisi yang dibuat change.org dengan judul “Copot Gus Miftah dari Jabatan Utusan Khusus Presiden”. Hal tersebut sudah memiliki 279.873 tanda tangan dengan tujuan akhir 300.000 tanda tangan.
Sebelum muncul petisi, video klarifikasi juga muncul menayangkan sosok Gus Miftah yang merangkul penjual es teh dan memberikan permintaan maaf disertai penjelasan bahwa hal tersebut adalah sebuah guyonan atau candaan. Netizen semakin meradang dan memanas melihat gesture dirinya yang tampak tak ada perasaan menyesal ataupun merasa bersalah. Kemudian munculah tagar #pecatmiftah hingga akhirnya muncul video pengunduran dirinya sebagai Jabatan Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan.
Eksistensi sosial media kini mampu menjadi kekuatan bagi netizen Indonesia. Hal itu dapat dilihat bagaimana arus informasi mendorong penegakan hukum dan menciptakan gerakan sosial. Sehingga ruang digital kini bisa menjadi mata pisau dalam mengawasi tindakan-tindakan seseorang khususnya tokoh publik yang menimbulkan keresahan di masyarakat. Hal ini juga menjadi penanaman nilai dan norma secara intrinsik yang manfaatnya langsung dapat mempengaruhi seseorang di dalam bermasyarakat.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” QS. Al Hujurat ayat 11. Ayat ini mengandung pesan bagi kita untuk menghindari permusuhan dan menciptakan suasana yang harmonis di antara lingkungan masyarakat. Ayat ini juga memberikan anjuran kepada orang yang melakukan kesalahan untuk segera bertaubat. Apa yang terjadi hari ini menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk dapat berhati-hati dalam berucap dan bersikap. Bercanda tetap mengikuti aturan nilai dan norma tanpa harus menjelekkan orang lain ataupun menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan.
Bagi netizen, mengadili dengan berkomentar hal yang buruk juga sama dengan menempatkan dirinya pada pelaku tindakan amoral. Baiknya cukup ditegur dengan yang santun dan tetap sopan dalam berkata. Sebab, hanya kebaikanlah yang akan menghadirkan kebaikan. Karena kita hidup di dunia ini tentunya tidak akan luput dari pantauan langsung dari Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Jangan lupa ada malaikat Atid dan malaikat Rokib yang senantiasa menemani kita setiap saat untuk melakukan pencatatan amal baik maupun perbuatan buruk. Dengan kebesaranNya, Allah SWT pula menggerakkan hati banyak orang untuk membantu dan memberikan ‘hadiah’ dari buah kesabaran dan kelapangan hati penjual es teh.
Bagi para followers yang menjunjung panutannya, sebaiknya tetaplah bersikap objektif dan hindari taqlid yang buta. Menolak kebenaran hanya karena kebenaran itu bukan disampaikan oleh orang yang dia jadikan figur, maka sama halnya dengan meruntuhkan agamanya sendiri. Cahaya Islam akan redup bila dakwah berpatokan pada salah satu sosok manusia biasa. Figuritas mampu membuat followers-nya tidak bisa berfikir sehat sehingga mereka akan membabi buta dalam membela sang figur. Bahkan jika terjebak dalam penyakit figuritas, bisa kehilangan nalar yang sehat. Right or wrong is my role model. And that is my way. Naudzubillah min dzalik. Maka cukuplah akhlaq Rasulullah SAW yang patut kita jadikan standar figuritas dalam kehidupan kita.
Janganlah pernah merasa rendah dihadapan manusia, karena status sosial kita. Namun, kejarlah ketakwaan kita kepada Allah. Tetap semangat bagi para pejuang nafkah, pencari rizqi Allah yang halal dan penuh berkah. Jadilah makhluk Allah yang ahsani taqwim. Karena kita adalah best creation ever of Allah sebagai manusia adalah makhluk paling mulia di muka bumi dengan kesempurnaan yang melebihi makhluk lain atas karunia-Nya. Wallahu’alam bishhowab. (IN)
Diketik di sudut pojok ruang.
Ahad, 8/12/2024.
GK setiap orang yang dihina derajat nya lebih hina darimu... Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi alaa diinik
BalasHapus