Langsung ke konten utama

Tragedi 11 September

"11 tahun sudah tragedi 11 September terjadi.
Sejak saat itu pula dunia Barat menyebut Islam dengan sebutanTERORIS."
- Risky Batista Sandi -


Hari itu, tepatnya tanggal 11 September 2012. Aku mengalami sebuah peristiwa yang membuatku terngiang-ngiang. Aku diteriaki TERORIS. yap, TERORIS. Sekali lagi ya. TERORIS. Seseorang membicarakanku. Ia tepat disamping kananku. Ia adalah tukang ojek. Siakeeee >,<

Disaat aku sedang menunggu adikku menjemputku dengan perasaan yang agak kesal karena hampir setengah jam aku menunggu. Jadi, begini kronologisnya...

Ketika itu seperti biasanya, (catatan: gak seperti biasanya sih. Disaat lagi nggak bareng Babeh aja, jadi Babeh hari itu nggak kerja. Karena sedikit kurang fit. *curhat) aku pulang menuju rumah dari kampus naik metromini 03 yang ke arah senen. Aku turun di ITC Cempaka Mas. Kemudian disambung dengan metromini 07. Suasana makin gelap. Karena adzan maghrib telah berkumandang dan berlalu. Tak lama beberapa menit, muncullah metromini 07. Aku bergegas naik dan mencari bangku kosong. Disepanjang jalan, aku sedikit curiga. Entah itu hanya perasaanku saja, mentromini itu sedikit bermasalah. Tuh kan bener... Dalam benakku, "Semoga aja nggak keluar asap ataupun meledak.. aamiin.. (pengalaman di cerita sebelumnya)".

Teringat kata Babeh, "Nggak ada kok mobil meledak,". hibur Babeh pada saat itu.

Lanjut yaa, singkat cerita. Si kondektur maupun kenek mencoba ngutak-ngatik mesinnya. Alhamdulillah beres. Disepanjang jalan, badanku berkeringat dingin. Karena ada sesuatu hal yang dipikirkan. Hehehe sedikit punya konflik nih dengan seseorang. Maaf yaa, kalo udah buat kecewa. Janji nggak akan mengulanginya. Nggak akan mengambil ranahnya ataupun melangkahi.

Disingkat lagi ya ceritanya. Jadi gini nih, pas sampe di tol SUNTER. Ternyata metromini 07 masuk tol. Lha, aku bingung dan kemudian lekas turun dari metromini itu. Lima detik kemudian, aku baru tersadar udah 'nggak punya duit lagi'. Nah lhoo? Sebenernya ada sih duit lima puluh ribu. Cuma sayang aja kalo dipecah. Alhasil nemu duit lima ratus logam dua, jadi seribu. Alhasil aku naik angkot 30 ke arah kelapa gading sunter. Belum sampai halte busway sunter kelapa gading, aku turun dari angkot. Karena panik, nggak ada ongkos. Jadinya jalan kaki deh menelusuri trotoar.

Tiba di halte sunter kelapa gading, aku segera mencari posisi yang nyaman untuk menelpon adikku, Ryan Maulana. Aku menelpon dan kasih kabar kalo ada di sunter kelapa gading. Intinya minta dijemput.

Sekitarku begitu banyak orang yang berlalu lalang. Seperti tukang ojek. Banyak yang menawariku untuk mengojek pada mereka. Tapi aku tolak. "Maaf, saya dijemput pak.."

Lima belas kemudian... "Neng, mau ke mana?" "Saya lagi nunggu jemputan.."
"Ayo neng, ngojek..."
"Emangnya arah ke mana?"

"Sabar ya, saya lagi nunggu jemputan! Nanti kalo nggak dijemput, baru ngojek."

"Kamu tau nggak sunter kelapa gading?" ucapku berkali-kali ketika adikku menelponku menanyakan posisiku di mana.

Akhirnya perdebatan via telpon pun terjadi. Ku akhiri dengan, "Yaudah nggak usah dijemput, kaka pulang sendiri, ngojek.."

Disaat aku sedang gundah gulana, kesal dan capek, ada seseorang yang membicarakanku. Ada TERORIS. Dengan dialek bahasa daerah dan campuran bahasa daerah dan bahasa Indonesia, si tukang ojek ini terus nyerocos ngomong TERORIS. bla bla bla ada bom. Hahaha. Teroris. hahaha.

Suaranya begitu samar-samar. Aku males mendengarkan, apalagi nanggepinnya. MALES BANGET.

Intinya tuh tukang ojek ngasih tau, kalo aku itu TERORIS. Penampilanku yang berjilbab panjang dan mengenakan tas ransel hitam besar membuat asumsi bahwa aku itu TERORIS pikirnya.

Aku langsung menghampiri tukang ojek disebelah kiriku. "Bang, ojek!" dengan nada ketus.

"LURUS AJA!" langsung kuberi jawaban, sebelum bertanya.

Aku terdiam. Masih kesal dan capek. Hehe esmosi mas bro, mbak neng..

Disepanjang jalan menuju rumah, aku membuka dialog.

"Itu temennya kenapa sih? Teriak-teriak TERORIS. TERORIS."

"Yang mana non?" tanya tukang ojek.
"yang disamping kanan saya, mas..."
"ohh itu, yang pake ikat kepala yaa?"
"Iya, kesel dengernya, Emangnya tampang saya, tampang muka TERORIS yaa?
"Jangan diladenin non, dia mah suka gitu. Ngegodain siapa aja. Stresh dia."

Omongannya tukang ojek ini, rada susah kucerna, karna dialek dia pake bahasa jawa dan ngomongnya juga dicampur pake bahasa jawa. Intinya katanya temennya stresh.

"Emangnya kalo perempuan berjilbab panjang itu TERORIS yaa? Trus tas saya isinya bom gituh? Udah meledak kali nih tas kalo ada bomnya!" curhat gue. Hahaha

"Saya nggak suka aja. Masa dibilang teroris. (sekali lagi gue ngomong gini,) Emangnya saya tampang TERORIS yaa? Pake jilbab disangka teroris. Capedeh."

"Nggak kok, emangnya non darimana?"
"Saya pulang kuliah.."
"Ohh kuliah yah non, di mana?"
"Di UNJ. Biasanya juga saya nggak pernah pulang turun disitu."
"Ooh.. biasanya dijemput yaa?'
"Iya bareng Babeh.."
"Tuh AMERIKA yang TERORIS! Bukan ISLAM!" ucapku terakhir kali.

Si tukang ojek ini terdiam. Akhirnya aku pulang ke rumah dengan selamat. Kuberikan lima belas ribu. Padahal jarak ke rumah itu dekat lho.. Biarlah itung-itung amal. Apalagi sepajang jalan, aku ngomel-ngomel. Hahaha pasti tuh orang nggak abis pikir, Gue galak juga. Hahaha.

BAck to pernyataan di atas. Itu status facebook yang ku copy dari salah satu temanku. Sangat kebetulah juga hari itu tanggal 11 September adalah tragedi gedung WTC yang tertabrak sebuah pesawat. Oahhmm, mulai ngantuk. udah dulu yaaa... daahh..

Kadang kalo inget kejadian itu, bikin aku tertawa malu dan lucu. Konyol sekali.
yaa, semoga bisa diambil hikmahnya.
Saran, lebih baik bawa uang receh lebih. Jangan sampe nggak ada duit untuk bayar angkot.

Sekian dan terimakasih.
- Mahasiswa Labil -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL : HIPERNOVA Sang Paradoks, Pesujud dan Monotheisme

JUDUL BUKU : HIPERNOVA | PENULIS : FARIZA AULIA JASMINE TEBAL BUKU : 230 HALAMAN | PENERBIT : TIGA SERANGKAI TAHUN TERBIT : 2018  GENRE : RELIGI, FIKSI | NILAI : 4/5      Tuhan tidak lain hanyalah proyeksi manusia. Begitulah pandangan Novae, sosok perempuan yang berprofesikan model terkenal penderita albino. Ia telah kehilangan kepercayaannya terhadap Tuhannya. Berawal sejak peristiwa yang telah terjadi yang dialaminya pada tragedi tsunami di Aceh tahun 2004. Selain itu ia juga kehilangan saudara-saudaranya dan juga keyakinannya sendiri terhadap hidup.      “Selain Tuhan adalah proyeksi manusia, saat ini ketuhanan menjadi ajang bisnis bagi para umat ‘berkostum’ laksana malaikat, padahal lebih menyeramkan dari kostum hallowen . Mereka memasang karakter, image , bahkan menjual ayat-ayat yang disebut suci untuk sesuap nasi. Sialnya, banyak orang yang menyanggupi menggelontoran uang bernominal sangat besar sebagai konsumen mereka. Oh... sungg...

Eksistensi VS Figuritas

 “Saat diamnya penjual es teh mampu menjatuhkan sosok pendakwah yang sombong. Maka di situlah Allah munculkan the power of netizen .” Video viral yang kini beredar mengenai penjual es teh menjadi sorotan tajam bagi netizen. Hal itu terjadi karena adanya perundungan verbal di ruang publik oleh sosok yang namanya tersematkan ‘Gus’. Situasi tersebut semakin memanas, saat video lainnya juga muncul dan menampilkan hal serupa di mana sosok yang bernama Miftah Maulana Habiburrohman, atau lebih dikenal dengan Gus Miftah, adalah seorang mubaligh dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman melontarkan kata-kata yang kasar pada lawan bicaranya. Adab dulu baru ilmu adalah Al adabu Fauqol 'ilmi. Pepatah ini mengandung makna bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Hal ini kembali menjadi nasehat terbaik bagi kita dalam berinteraksi di masyarakat. Sebab mulutmu adalah harimaumu menjadi senjata mematikan yang dapat membunuh siapa saja, bagi mereka yang tak mampu menahan diri berucap kasar dan m...

Kecil tapi Nyata

Kecil tapi Nyata.... Suatu hari, seorang pemuka agama dimintai bantuan oleh seorang wanita malang yang tidak punya tempat berteduh. Karena sangat sibuk, pemuka agama itu berjanji akan mendoakan wanita tersebut. Beberapa saat kemudian wanita itu menulis puisi seperti ini : Saya kelaparan ... dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya Saya tergusur ... dan Anda ke tempat ibadah untuk berdoa bagi kebebasan saya Saya ingin bekerja .... dan Anda sibuk mengharamkan pekerjaan yang Anda anggap tidak pantas, padahal halal dan saya membutuhkannya Saya sakit ... dan Anda berlutut bersyukur kepada Allah atas kesehatan Anda sendiri Saya telanjang, tidak punya pakaian ... dan Anda mempertanyakan dalam hati kesopanan penampilan saya, bahkan Anda menasehati saya tentang aurat. Saya kesepian ... dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah tetapi saya tetap amat lapar, kesepian, dan kedingi...