Langsung ke konten utama

Aku dan Aksi



Revolusi bukanlah sesuatu yang dikarang dalam otak.
(Massa Aksi, Tan Malaka)

Aku berjalan menelusuri aspal debu jalanan bersama dengan mahasiswa lainnya. Bersorak-sorak menuntut keadilan. Berteriak, “Hidup Mahasiswa!!!” dan menyanyikan lagu “Darah Juang” dengan semangat menggelora. Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh tepat tanggal 20 Mei 2013 kemarin, memberikan sebuah satu momentum yang menggerakkan mahasiswa untuk melakukan suatu kontrol sosial kepada sistem pemerintahan yang berkuasa. Perjalanan dari Bundaran HI ke gedung KPK tidak memudarkan semangat kami. Meski terik matahari menguras tenaga, namun tekad dan tujuan kami terus tegak berdiri dan mengalahkan panasnya Ibukota.

Edward Said mengatakan bahwa intelektual adalah pencipta sebuah bahasa kebenaran kepada penguasa, menjalankan kebenaran itu dan senantiasa bersifat oposisi terhadap penguasa dan tidak akomodatif. Jadi, mahasiswa sebagai kaum yang katanya intelektual, haruslah mengatakan yang benar dan bersikap oposisi terhadap penguasa zalim serta tidak akan pernah mau bekerjasama dengan kekuasaan, apalagi yang korup dan menindas. Berbeda dengan Said, seorang Komunis Italia bernama Antonio Gramsci mengatakan bahwa setiap orang itu intelektual, tetapi tidak setiap orang menjalankan fungsi intelektual tersebut. Gramsci membagi dua kategori intelektual, yaitu intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional adalah ilmuwan yang menempatkan diri sebagai kelas tersendiri, terpisah dari masyarakat, seperti dosen, professor dan lain lain. Sedangkan intelektual organik adalah intelektual yang melibatkan diri dalam kelas tertentu, baik kelas penguasa maupun masyarakat. Tetapi menurut Gramsci, hanya yang melebur di dalam kelas rakyat jelatalah yang menjalankan fungsi keintelektualannya. Sedangkan yang melebur dalam kelas penguasa sama saja seperti intelektual tradisional.
Mahasiswa yang memiliki peran sebagai ‘agen of change’ dan ‘kaum intelektual’ diberi ruang publik yang sangat luas. Mahasiswa sebagai kelas menengah harus mampu menjadi jembatan antara masyarakat dan kelas penguasa, karena dalam klasifikasi sosialnya berada ditengah-tengah diantara kedua kelas tersebut. Dalam tanggungjawab sosialnya, mahasiswa mempunyai dua peran penting sebagai social control dan social pressure. Mengontrol jalannya pemerintahan agar sesuai dengan relnya dan mempressure setiap kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Peran sosial untuk mengawasi lembaga negara dan sebagai kelompok penekan inilah yang selalu dijalankan oleh mahasiswa. Meskipun tak banyak dari kami juga yang apatis dan hedonis serta autis terhadap gerakan mahasiswa.
Sebagaimana janji pada Sumpah Pemuda 1928, yang menghasilkan tiga pemahaman yaitu Satu Nusa Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Aku dan ratusan mahasiswa lainnya yang berasal dari berbagai daerah dengan aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Se-Indonesia yang disingkat BEM SI, melakukan aksi turun ke jalan di depan gedung KPK (Komisi Pemberantas Korupsi). Dengan berlandaskan satu tujuan berantas KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme), Kembalikan cita-cita Reformasi dan Tuntaskan Kasus Century menjadi tagline dan isu besar yang diangkat pada aksi kali ini. Selain itu juga, menjadikan momentum Hari Kebangkitan Nasional dan 15 Tahun Reformasi sebagai pendobrak dan pengingat janji pimpinan KPK untuk segera menuntaskan kasus century.

Polisi, media massa dan wartawan pun sudah standby turut mengikuti aksi hari ini. Aku dan mahasiswa lainnya dihadapkan pada ruang publik yang diidealkan oleh Habermas kiranya adalah ruang dimana setiap masalah bisa dikomunikasikan tanpa kendala, bukan dimana segalanya boleh dilakukan begitu saja. Komunikasi yang terbentuk adalah bentuk komunikasi demokratis, timbal-balik dan tiap-tiap pihak bisa menerimanya dengan baik tanpa dominasi.

Ruang publik politik terletak pada komponen masyarakat (solidaritas sosial), dia harus dibayangkan sebagai suatu ruang yang otonom dan terbebas dari pengaruh dua komponen lainnya. Namun bagaimanapun juga, hubungan ketiganya bukanlah sebuah hubungan yang kaku. Maka selanjutnya Habermas membagi kembali ruang publik politik menjadi ruang publik otentik—proses komunikasi dilakukan oleh institusi non-formal yang mengorganisasikan dirinya sendiri--, dan satu lagi adalah ruang publik non-otentik, yaitu kekuatan pengaruh atas keputusan para pemilih untuk dimobilisasi ke maksud tertentu melalui media massa.

Tiba-tiba handphone-ku bergetar tanda sms masuk.
“Ma, lo di mana? TBP jadi nih, di FIP lantai 3 ya.” Kata Amel melalui sms yang dikirimnya.
“Gue masih di KPK, di ruang apa?” balasku.

Aku melirik jam yang tertera di layar handhphone, waktu menunjukkan pukul 12.45. Aku duduk dipinggir trotoar sambil meneguk sebotol air yang kubawa dari rumah. Beberapa mahasiswi lainnya juga duduk disepanjang trotoar dan bahu jalan. Hingga akhirnya memblokir jalan. Diujung depan gerbang KPK terlihat beberapa mahasiswa melakukan sholat dzuhur berjama’ah. Mereka sholat di bawah terik matahari dengan beralaskan almamater yang digunakan dan beratapkan langit. Mereka sholat terlihat khusu’, meskipun kondisinya tidak kondusif. Beberapa pers media massa maupun mahasiswa mengabadikan kejadian tersebut dan polisi turut mengawasi.

Aku berpikir, bagaimana caranya bisa ke kampus dengan kondisi seperti ini? Jika naik transjakarta akan sangat membutuhkan waktu yang cukup lama dan alhasil aku akan sangat tertinggal.  Jatah absensiku sudah cukup terpenuhi pada mata kuliah TBP (Teori Belajar dan Pembelajaran), akankah aku melewati batas? Aku hanya diam dan termenung sesaat.

“Hey, coba lihat ke sini...” teriak Julia yang berada tak jauh dari hadapanku.
“Yak, bagus...” lanjutnya.

Julia mengabadikan ekspresiku pada aksi hari ini. Beberapa kali ia menjepretku dengan kamera SLR yang dibawanya. Spontan aku dan temanku yang berada disampingku tak mau terlewat. Segera memposisikan diri untuk mendapatkan foto yang terbaik.

“Dengar hai dengar seruan beraksi....

  Untukmu segenap Penegak reformasi...

Bergerak bersama tuntaskan reformasi..

Selamatkan rakyat negeri ini...

Amanat pertiwi jangan dikhianati enam misi...

Reformasi dinanti....”



Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL : HIPERNOVA Sang Paradoks, Pesujud dan Monotheisme

JUDUL BUKU : HIPERNOVA | PENULIS : FARIZA AULIA JASMINE TEBAL BUKU : 230 HALAMAN | PENERBIT : TIGA SERANGKAI TAHUN TERBIT : 2018  GENRE : RELIGI, FIKSI | NILAI : 4/5      Tuhan tidak lain hanyalah proyeksi manusia. Begitulah pandangan Novae, sosok perempuan yang berprofesikan model terkenal penderita albino. Ia telah kehilangan kepercayaannya terhadap Tuhannya. Berawal sejak peristiwa yang telah terjadi yang dialaminya pada tragedi tsunami di Aceh tahun 2004. Selain itu ia juga kehilangan saudara-saudaranya dan juga keyakinannya sendiri terhadap hidup.      “Selain Tuhan adalah proyeksi manusia, saat ini ketuhanan menjadi ajang bisnis bagi para umat ‘berkostum’ laksana malaikat, padahal lebih menyeramkan dari kostum hallowen . Mereka memasang karakter, image , bahkan menjual ayat-ayat yang disebut suci untuk sesuap nasi. Sialnya, banyak orang yang menyanggupi menggelontoran uang bernominal sangat besar sebagai konsumen mereka. Oh... sungg...

Eksistensi VS Figuritas

 “Saat diamnya penjual es teh mampu menjatuhkan sosok pendakwah yang sombong. Maka di situlah Allah munculkan the power of netizen .” Video viral yang kini beredar mengenai penjual es teh menjadi sorotan tajam bagi netizen. Hal itu terjadi karena adanya perundungan verbal di ruang publik oleh sosok yang namanya tersematkan ‘Gus’. Situasi tersebut semakin memanas, saat video lainnya juga muncul dan menampilkan hal serupa di mana sosok yang bernama Miftah Maulana Habiburrohman, atau lebih dikenal dengan Gus Miftah, adalah seorang mubaligh dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman melontarkan kata-kata yang kasar pada lawan bicaranya. Adab dulu baru ilmu adalah Al adabu Fauqol 'ilmi. Pepatah ini mengandung makna bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Hal ini kembali menjadi nasehat terbaik bagi kita dalam berinteraksi di masyarakat. Sebab mulutmu adalah harimaumu menjadi senjata mematikan yang dapat membunuh siapa saja, bagi mereka yang tak mampu menahan diri berucap kasar dan m...

Kecil tapi Nyata

Kecil tapi Nyata.... Suatu hari, seorang pemuka agama dimintai bantuan oleh seorang wanita malang yang tidak punya tempat berteduh. Karena sangat sibuk, pemuka agama itu berjanji akan mendoakan wanita tersebut. Beberapa saat kemudian wanita itu menulis puisi seperti ini : Saya kelaparan ... dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya Saya tergusur ... dan Anda ke tempat ibadah untuk berdoa bagi kebebasan saya Saya ingin bekerja .... dan Anda sibuk mengharamkan pekerjaan yang Anda anggap tidak pantas, padahal halal dan saya membutuhkannya Saya sakit ... dan Anda berlutut bersyukur kepada Allah atas kesehatan Anda sendiri Saya telanjang, tidak punya pakaian ... dan Anda mempertanyakan dalam hati kesopanan penampilan saya, bahkan Anda menasehati saya tentang aurat. Saya kesepian ... dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah tetapi saya tetap amat lapar, kesepian, dan kedingi...