Langsung ke konten utama

Huhf Cape deh.....




Huhff.... Cape dehhh..........

Hari ini, hari terakhir Ujian Blok ke-2 Semester Pertama. Aku berangkat ke sekolah terburu-buru. Aku tak sempat untuk sarapan pagi. Perutku kosong. Semua pelajaran yang tadi malam aku pelajari, hilang begitu saja. Akhirnya sebelum ujian dimulai, aku menyempatkan diri membaca buku untuk mengingat kembali pelajaran yang tadi malam kupelajari. Kepalaku pusing sekali rasanya. Ditambah lagi, hatiku rasanya deg-degan sekali ketika mendengar isu bahwa pengawas hari ini di ruanganku adalah Pak Iwan. Pak Iwan adalah guru yang tegas dan tidak suka melihat muridnya menyontek. Itu menurutku.
Aku bukannya takut pada Pak Iwan, karena takut tidak bisa menyontek. Tapi, entah tahu mengapa, ujian blok 1 kemarin, semuanya menjadi nge-blank dan remedial, ketika Pak Iwan yang mengawas. Padahal ujian tersebut soalnya lumayan mudah bagiku. Mungkin aku terlalu semangat sehingga tidak teliti dalam mengerjakan soal.. Padahal kan Pak Iwan baik dan beliau juga tetanggaku. Rumah kami berdekatan. Hanya beda beberapa rumah saja.
Siapa pun pengawasnya aku tak pernah khawatir ataupun cemas. Karena aku tak suka menyontek pada saat ulangan ataupun ujian. Meskipun PR terkadang seringkali aku menyontek pada teman.
Akhirnya, bel masuk berbunyi. Pertanda ujian akan segera dimulai. Aku segera meletakkan tasku di luar ruangan dan mempersiapkan pulpen dan tip-x serta kartu ujian. Pengawas pun segera masuk dan menyuruh kami untuk berdo’a sebelum mengerjakan soal ujian. Ternyata bukan Pak Iwan yang mengawas. Aku menghela nafas dan bersyukur.
Jarum jam terus berputar tak berhenti. Aku memandangi jam tersebut sambil berpikir dan menahan rasa lapar. Akhirnya kutemukan jawabannya dan kutuangkan pada selebar kertas jawaban yang telah disediakan. Sesekali aku memperhatikan teman-teman dan kakak kelas yang asyik mengerjakan soal. Aku tersenyum menggelengkan kepala melihat itu semua. Sikap mereka lucu-lucu. Ada yang tengak-tengok mencari jawaban ke temannya, berpikir sambil mengupil, menatap kertas soal sambil mulutnya terbuka lebar, yang garuk-garuk kepala, dan juga ada yang menyalin batikan. Semua itu membuatku tersenyum geli. Aku menengok ke arah pengawas, dan ternyata sejak tadi pengawas itu memperhatikanku. Aku pun langsung menunduk malu.
Setengah jam kemudian, kakak kelas di sampingku keluar dan diikuti temannya yang lain. Teman-temanku juga menyusul. Aku sedikit panik, karena aku belum selesai.. Tiba-tiba terdengar suara handphone berbunyi..
“Hape siapa tuh bunyi? Udah tau lagi ujian tapi nggak disilent. Dasar bodoh! De eL, kalo disita tuh hape... hehehe” ucapku dalam hati mengejek yang punya handphone tersebut sambil menengok disekelilingku.
Aku penasaran siapa yang punya handphone itu. Dan ternyata pengawas itu duduk disampingku. Dia menengok ke arahku. Suara handphone itu pun suaranya semakin nyaring terdengar. Aku memperhatikan sekali lagi suara handphone tersebut, suaranya tidak asing lagi bagiku. Aku menengok ke arah kiri saku bajuku, handphoneku bergetar. Betapa terkejutnya aku. Ternyata bunyi itu berasal dari kantong saku bajuku. Aku pun panik. Lagu Cinta Begini dari Tangga terus berbunyi. Teman-temanku melihat ke arahku.
“Dasar bodoh, mampus deh gue…”ucapku dalam hati panik sambil menepuk keningku.
Aku berpura-pura tidak mendengar suara itu. Tapi, pengawas itu tetap menengok ke arahku lagi. Aku mulai berkeringat bercucuran.
“Itu handphone kamu ya?” tanya pengawas tersebut.
“Iii…iiya bu, maaf bu, saya lupa. Belum disilent…”jawabku panik bercampur kaget.
“Lain kali hape-nya disilent ya? Bila perlu di non-aktifkan,”ujar pengawas itu.
“Iya bu, makasih ya bu...”
Aku menghela nafas lega. Segera kulihat handphone-ku. Ternyata sms masuk dari operator. Isinya aku segera mengisi pulsa. Karena masa aktifnya akan habis. Segera ku ganti profil dalam handphone-ku. Silent..
“Huh..... Cape deh...”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL : HIPERNOVA Sang Paradoks, Pesujud dan Monotheisme

JUDUL BUKU : HIPERNOVA | PENULIS : FARIZA AULIA JASMINE TEBAL BUKU : 230 HALAMAN | PENERBIT : TIGA SERANGKAI TAHUN TERBIT : 2018  GENRE : RELIGI, FIKSI | NILAI : 4/5      Tuhan tidak lain hanyalah proyeksi manusia. Begitulah pandangan Novae, sosok perempuan yang berprofesikan model terkenal penderita albino. Ia telah kehilangan kepercayaannya terhadap Tuhannya. Berawal sejak peristiwa yang telah terjadi yang dialaminya pada tragedi tsunami di Aceh tahun 2004. Selain itu ia juga kehilangan saudara-saudaranya dan juga keyakinannya sendiri terhadap hidup.      “Selain Tuhan adalah proyeksi manusia, saat ini ketuhanan menjadi ajang bisnis bagi para umat ‘berkostum’ laksana malaikat, padahal lebih menyeramkan dari kostum hallowen . Mereka memasang karakter, image , bahkan menjual ayat-ayat yang disebut suci untuk sesuap nasi. Sialnya, banyak orang yang menyanggupi menggelontoran uang bernominal sangat besar sebagai konsumen mereka. Oh... sungg...

Eksistensi VS Figuritas

 “Saat diamnya penjual es teh mampu menjatuhkan sosok pendakwah yang sombong. Maka di situlah Allah munculkan the power of netizen .” Video viral yang kini beredar mengenai penjual es teh menjadi sorotan tajam bagi netizen. Hal itu terjadi karena adanya perundungan verbal di ruang publik oleh sosok yang namanya tersematkan ‘Gus’. Situasi tersebut semakin memanas, saat video lainnya juga muncul dan menampilkan hal serupa di mana sosok yang bernama Miftah Maulana Habiburrohman, atau lebih dikenal dengan Gus Miftah, adalah seorang mubaligh dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman melontarkan kata-kata yang kasar pada lawan bicaranya. Adab dulu baru ilmu adalah Al adabu Fauqol 'ilmi. Pepatah ini mengandung makna bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Hal ini kembali menjadi nasehat terbaik bagi kita dalam berinteraksi di masyarakat. Sebab mulutmu adalah harimaumu menjadi senjata mematikan yang dapat membunuh siapa saja, bagi mereka yang tak mampu menahan diri berucap kasar dan m...

Kecil tapi Nyata

Kecil tapi Nyata.... Suatu hari, seorang pemuka agama dimintai bantuan oleh seorang wanita malang yang tidak punya tempat berteduh. Karena sangat sibuk, pemuka agama itu berjanji akan mendoakan wanita tersebut. Beberapa saat kemudian wanita itu menulis puisi seperti ini : Saya kelaparan ... dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya Saya tergusur ... dan Anda ke tempat ibadah untuk berdoa bagi kebebasan saya Saya ingin bekerja .... dan Anda sibuk mengharamkan pekerjaan yang Anda anggap tidak pantas, padahal halal dan saya membutuhkannya Saya sakit ... dan Anda berlutut bersyukur kepada Allah atas kesehatan Anda sendiri Saya telanjang, tidak punya pakaian ... dan Anda mempertanyakan dalam hati kesopanan penampilan saya, bahkan Anda menasehati saya tentang aurat. Saya kesepian ... dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah tetapi saya tetap amat lapar, kesepian, dan kedingi...