Sebagai mahluk sosial, manusia tidak pernah bisa hidup seorang diri. Di manapun berada, manusia senantiasa memerlukan kerja sama dengan orang lain. Manusia membentuk pengelompokan social (social grouping) diantara sesama dan upayanya mempertahankan hidup dan maengembangkan kehidupan. Kemudian dalam kehidupan bersama, manusia memerlukan organisasi, yaitu suatu jaringan sosial antar sesama untuk menjamin ketertiban social. Dari interaksi-interaksi itulah yang kemudian melahirkan sesuatu yang dinamakan lingkungan social. Lingkungan sosial erat sekali hubungannya dengan pembangunan, baik secara fisik maupun pembangunan masyarakat secara ekonomi dan sosial itu sendiri yang bersifat kontinyu dan berkelanjutan.
Di Jakarta terkenal dengan polusi udara dan pencemaran lingkungan lainnya. Hal ini menyebabkan kondisi fisik kota Jakarta memburuk. Pencemaran yang ditimbulkan adalah karena banyaknya asap kendaraan dan banyaknya industri-industri yang beroperasi tidak bertanggung jawab terhadap limbah yang dihasilkan. Selain itu juga penduduk Jakarta tidak mempedulikan kondisi lingkungannya. Contohnya, sebagian masyarakat masih ada yang membuang sampah tidak pada tempatnya.
Pencemaran udara bisa terlihat dengan jelas pada saat musim panas. Udara yang terkena polusi biasanya bau dan apabila udara tersebut terhirup, biasanya nafas akan terasa sesak. Pencemaran udara bisa terlihat pada komponen awan yang berwarna kuning-kekuningan.
Pencemaran tanah juga disebabkan karena komponen penyusunnya yang tidak steril dari limbah rumah tangga dan pabrik industri sekitar. Tanah yang tercemar mengakibatkan tanaman yang hidup pada daerah tersebut mengalami perlambatan pertumbuhan. Akibat lain yaitu, tanah kurang subur. Biasanya tanah tersebut berwarna merah dan terlihat cepat kering.
Pencemaran air biasanya disebabkan karena pembuangan limbah rumah tangga dan pabrik industri yang tidak ramah lingkungan. Seperti pembuangan air cucian (detergen), pembuangan sampah organik maupun non organic. Tidak hanya itu saja, biasanya penduduk yang tinggal dipinggiran sungai menggunakan air sungai sebagai tempat MCK (Mandi Cuci Kakus).
Bagi kampus, suasana lingkungan yang diidamkan adalah kondisi yang sejuk dan nyaman, teduh di siang hari karena rimbunannya naungan pepohonan, kampus yang hijau oleh dedaunan, dan berwarna-warni oleh bebungaan. Kondisi lingkungan yang sejuk itu sangat mendukung kegiatan belajar, mengajar, meneliti, dan menuliskan karya-karya yang berguna bagi kepentingan umat manusia.
Kehadiran tumbuh-tumbuhan karenanya merupakan hal yang vital dalam menciptakan lansekap yang asri. Suasana yang segar yang tercipta oleh kehadiran tumbuh-tumbuha menyebabkan kampus digemari sebagai tempat berolah raga pada pagi dan sore hari. Dan di hari minggu para remaja dan mahasiswa duduk-duduk berkelompok untuk berdiskusi. Orang-orang dari luar kota datang berkunjung ke kampus ini sebagai salah satu alternatif tempat berwisata.
Tumbuh-tumbuhan dapat dijadikan sebagai obyek pendidikan dan penelitian. Kampus diharapkan dapat berperan serta dalam melindungi dan melestarikan jenis-jenis tumbuhan langka, disamping dapat melestarikan biodiversitas tropika.
Sebagai mahasiswa dengan berlabel ‘sosial’, kita harus lebih menjaga lingkungan. Terutama lingkungan kampus dan sekitarnya. Selain menjaga kita juga turut meramaikan dan menyorakkan aksi “go green”.
Menanam pohon atau melakukan composting. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk untuk mengurangi pencemaran udara. Apalagi sekarang sedang heboh-hebohnya tentang isu Global Warming.
Salah satu bentuk pelestarian lingkungan yang dilakukan membuat komposting dari sampah organik maupun sampah non organik. Komposting ini dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama, sampah yang akan didaur ulang dipotong kecil-kecil. Kemudian diberi biang kompos. Tahap ke-2, kompos yang sudah diberi biang kompos, diendapkan selama beberapa hari agar menjadi pupuk. Tahap ke-3 merupakan hasil kompos tersebut. Komposting ini berguna sebagai pupuk untuk menyuburkan tanaman. Hasil pupuknya pun langsung digunakan sendiri.
Sebelum dilakukannya proses komposting, sampah-sampah tersebut dimasukkan ke dalam tempat pembuangan sampah yang sudah disediakan. Sampah tersebut tetap dibedakan antara sampah kering dengan sampah yang basah. Jika sampah yang tidak layak untuk digunakan sebagai kompos, biasanya akan diangkut oleh tukang sampah dengan gerobak sampah.
Dimulai melakukan suatu penelitian dari hal yang mudah dijumpai atau ruang lingkup yang kecil, sehingga kita memberikan informasi secara langsung yang telah terbukti kebenarannya.
Keberhasilan suatu kampus bukan hanya ditentukan oleh materi pelajaran yang disampaikan dosen kepada siswa, melainkan juga dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial yang berlaku di lingkungannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa baik tidaknya seorang siswa ditentukan oleh lingkungan masyarakat dimana ia tinggal. Untuk lebih mengenal lingkungan sekolah sebagai acuan dalam melestarikan lingkungan.
Untuk mengembangkan potensi yang ada dan dapat menerapkannya di lingkungan masyarakat atau tempat tinggal. Sebagai motivasi diri untuk lebih mencintai kebersihan.
Komentar
Posting Komentar