Jika kita mencoba untuk memikirkan apa yang membedakan laki-laki dengan perempuan, hal pertama yang akan terpikirkan oleh kita ialah jenis kelamin. Ketika kita berbicara mengenai perbedaan jenis kelamin maka kita akan membahas perbedaan biologis yang umumnya dijumpai antara laki-laki dan perempuan, seperti perbedaan pada bentuk, tinggi serta berat badan, struktur organ reproduksi dan fungsinya, suara, bulu badan dan sebagainya.
Berbeda dengan jenis kelamin, gender sendiri memiliki pengertian tersendiri. Menurut Mead, bahwa dalam sejarah kebudayaan masyarakat Barat dikenal perbedaan kepribadian laki-laki dan perempuan. Dalam klasifikasi tersebut, perempuan dikaitkan dengan ciri kepribadian tertentu seperti watak keibuan, tidak agresif, berhati lembut, suka menolong, emosional, tergantung, memanjakan, peduli terhadap keperluan orang lain dan mempunyai seksualitas feminine. Laki-laki, dipihak lain dikaitkan dengan ciri kepribadian keras, agresif, menguasai dan seksualitas kuat.
Dengan demikian, pertanyaannya ialah : “Apa arti penting gender itu?” Gender merupakan suatu perangkat yang masyarakat gunakan untuk mengendalikan para anggotanya. Gender mengarahkan kita ke dalam pengalaman kehidupan yang berbeda berdasarkan atas jenis kelamin kita. Gender membuka dan menutup pintu kesempatan kita untuk mendapatkan kekuasaan, kepemilikan, dan bahkan prestise. Seperti halnya dengan kelas sosial, gender merupakan suatu ciri struktural masyarakat.
Peran Media Massa
Sebagaimana halnya dengan buku cerita untuk anak-anak dan remaja serta buku pelajaran di sekolah. Maka media pun sangat berperan dalam sosialisasi gender. Baik dalam pemberitaannya, kisah fiksi yang dimuatnya, maupun melalui iklan yang dipasang di dalamnya.
Coba kita lihat berapa banyak iklan yang ditayangkan dilayar televisi yang diperankan oleh kaum hawa. Keindahan yang disuguhkan terkadang membuat mata lelaki terbelalak dengan lebar. Iklan sabun mandi, iklan handbody lotion, iklan sampo hingga iklan peralatan olahraga-yang lagi-lagi membuat perempuan sebagai objeknya yang seksi. Lain halnya dengan laki-laki jarang sekali mendapatkan iklan seperti ini yang jarang menampilkan keseksian tubuhnya.
Selain itu juga dalam iklan produk keperluan rumah tangga seperti zat pembersih lantai, pembasmi serangga, sabun cuci, bumbu masak, minyak goreng, mie instan cepat saji, lebih cenderung menampilkan perempuan dalam peran sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai ibu. Sedangkan iklan yang mempromosikan produk mewah yang merupakan simbol status dan kesuksesan dibidang pekerjaan cenderung menampilkan laki-laki sebagai modelnya. Meskipun iklan yang menampilakn perempuan diranah publik berjumlah banyak, namun iklan demikian sering menekankan pada jenis pekerjaan yang cenderung oleh perempuan dan menempati posisi rendah dalam organisasi, seperti misalnya peran sekretaris atau kasir dan bukan jabatan status tinggi seperti misalnya presiden direktur bank ataupun kapten penerbang pilot.
Tak hanya itu saja, yang lebih tragis lagi dalam perfilm-an Indonesia-khususnya film horror. Perempuan lebih banyak memiliki peranan yang tereksploitasi. Seperti kuntilanak dan sundel bolong. Sedangkan hantu berjenis laki-laki hanya pocong saja. Tidak hanya berperan sebagai hantu. Biasanya perempuan akan menjadi korban. Entah itu menjadi korban pembunuhan ataupun menjadi korban pemerkosaan-dan lagi lagi kostum yang digunakan perempuan lebih banyak yang mengumbar aurat, yang menampilkan kemolekan atau keseksian tubuhnya.
Selain itu dalam media massa hampir tiap hari kita menemui berita mengenai berbagai bentuk pemerkosaan yang dialami oleh kaum hawa. Seperti yang sebelumnya terjadi, kasus pemerkosaan diangkot. Pelecehan seksual yang dilakukan di bus transjakarta. Bahkan, seperti di jalan, kita pernah menyaksikan atau mungkin menjadi korban bagi perempuan yang bagaimana seorang atau beberapa orang laki-laki menggoda seorang perempuan di tempat umum dengan mengucapkan kata-kata tidak senonoh?
Mengapa terjadi seperti itu? Bagaimana terjadi ketimpangan gender ini? Mengapa terjadinya dominasi laki-laki yang lebih unggul? Karena kedudukan perempuan dan pengalaman mereka pada kebanyakan situasi berbeda dengan pengalaman dan kedudukan laki-laki. Hal inilah Comte berpendapat dengan teorinya, bahwa masyarakatlah yang membentuk individu. Terlihat jelas, ketika media massa meng-ekspos perempuan. Hal inilah yang membuat perempuan membentu perempuan dalam status dan perannya. Lebih cenderung menjatuhkan perempuan dalam hal yang negatif. Sehingga membawa dampak yang luarbiasa bagi perempuan.
Ketimpangan Gender
Secara spesifik, perempuan memperoleh lebih sedikit sumber daya materi, status sosial, kekuasaan, peluang, bagi aktualisasi diri ketimbang laki-laki yang berbagi lokasi sosial dengan mereka. Padahal, justru semua manusia dicirikan dalam kebutuhan akan kebebasan untuk mengejar aktualisasi diri dan oleh daya pengaruh yang membuat mereka menyesuaikan diri dengan sejumlah hambatan atau kesempatan situasi yang mereka hadapi.
Macious mendefinisikan stratifikasi gender sebagai ketimpangan dalam pembagian kekayaan, kekuasaan, dan privilese antara laki-laki dan perempuan. menurut Macious, ketimpangan ini dijumpai diberbagai bidang, dunia kerja, dalam pelaksanaanya pekerjaan rumah tangga, di bidang pendidikan dan di bidang politik. Selain itu perempuan lebih cenderung menjadi korban kekerasan laki-laki daripada sebaliknya. Terlihatlah perempuan kaum yang lemah dan tertindas.
Adanya stratifikasi gender telah mendorong lahirnya gerakan sosial dikalangan kaum perempuan. tujuannya membela dan memperluas hak-hak kaum perempuan. Gerakan ini dinamakan feminisme, yang menurut Giddens telah bermula di Perancis pada abad 18 dan kemudian menyebar ke negara-negara lain di benua Eropa, Amerika, Afrika, dan Asia. Di bidang politik, gerakan ini terpusat pada perjuangan persamaan hak pilih dengan laki-laki dan telah menghasilkan diberikannya persamaan hak pilih dibanyak negara.
Di Indonesia juga memiliki gerakan yang sama dalam mengangkat derajat perempuan dengan dipelopori oleh R.A Kartini. Pada masanya, Kartini menulis surat untuk teman-temnannya yang di Eropa yang tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya. Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Upaya dan Solusi Bersama
Setiap negara juga harus berperan dalam meningkatkan kesadaran dalam mensosialisasikan dan mengimplementasikan “kesetaraan gender”. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia telah responsif terhadap pendekatan gender dengan membentuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan yang tujuannya adalah “Terwujudnya keadilan dan kesetaraan gender, kesejahteraan dan perlindungan anak dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara”. Sedangkan terkait dengan persoalan kekerasan terhadap perempuan yang banyak terjadi dalam kehidupan rumah tangga, pemerintah Indonesia telah memberlakukan UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah tangga (PKDRT). UU tersebut mendefinisikan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) sebagai “setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga” (Pasal 1 Ayat 1).
Dalam mengupayakan penyetaraan gender memerlukan program khusus untuk memberikan keterampilan keahlian dan pembekalan keterampilan atau kompetensi tertentu. Dengan pemberian keterampilan tersebut, perempuan akan mampu berperan dan berpeluang. Juga tidak lagi tereksploitasi dari berbagai pihak, khususnya media massa. Individulah yang harus membentuk masyarakat, bukan masyarakat lagi yang membentuk individu. Perlu diupayakan adanya pembangunan yang lebih baik dalam menciptakan karakter terhadap perempuan dalam publik, yakni di mulai dari para sutradara dalam pembuatan skenario maupun para aktris (perempuan) yang seharusnya lebih sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang indah dan keindahannya itupun tidak layak diumbar ataupun dipublikasikan dikhalayak umum.
Referensi :
Referensi :
- Pengantar Sosiologi, Kamanto Sunarto. Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Indonesia
- Sosiologi dengan pendekatan membumi, James M. Henslin. Penerbit Erlangga
- http://azizfahri.blogspot.com/2011/04/solusi-meningkatkan-kesadaran.html
Komentar
Posting Komentar