Hmm, menjadi seorang pemimpin?? Siapa takut? Namun, permasalahannya jika nanti ketika aku menjadi seorang pemimpin, apakah para anggotaku akan tetap berada di sampingku? Apakah mereka akan di belakangku, lalu pelan-pelan meninggalkanku? Ataukah mereka mendorong memberikan motivasi untukku? Ataukah mereka menusuk aku dari belakang dan menjatuhkanku?
Hal itulah yang terlintas dibenakku. Menjadi seorang pemimpin itu tidaklah mudah, apalagi memimpin anggota atau rakyatnya yang begitu banyak. Belum lagi harus menjadi penengah perbedaan pendapat antara satu dengan lainnya. Menjadi bijaksana dan memikirkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Mengalah untuk orang lain dan tetap harus siap dan siaga apapun yang akan menimpa diri pribadi. Ada dua hal yang akan diterima oleh seorang pemimpin, ketika memimpin yaitu; hinaan/cacian ataukah pujian/sanjungan. Hal itu akan terjadi ketika sukses atau tidaknya suatu pemimpinan tersebut.
Tidak itu saja, menjadi pemimpin terkadang menjadi suatu kelebihan ketimbang menjadi anggota. Karena akan dikenal oleh masyarakat banyak dan juga tentunya memiliki kekuasaan serta kekayaan (setidaknya upah menjadi pemimpin). Hal itulah yang kini direbutkan oleh banyak orang. Mereka berlomba-lomba mencari banyak jalan untuk menjadikan dirinya menjadi seorang pemimpin. Mulai dari cara yang halal, maupun cara yang haram.
Jika aku menjadi Gubernur DKI Jakarta, hmm… apa yang akan aku LAKUKAN? Sebelumnya, aku akan menanyakan kepada anggotaku, apakah mereka bersedia bekerjasama denganku, menjalankan amanah dengan baik dan juga siap melayani masyarakat dengan ikhlas? Setelah itu, aku akan bertanya pada masyarakat, apakah mereka siap bekerjasama denganku dan juga mau bergotong royong membangun DKI Jakarta ke arah yang lebih baik lagi ketika nantinya aku terpilih menjadi seorang Gubernur. Karena sehebat apapun pemimpinnya, jika anggotanya tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik, maka akan terpecah belah. Seperti contohnya Ir. Soekarno dengan Muhammad Hatta. Mereka merupakan sahabat yang ideal dan saling melengkapi kekurangannya masing-masing.
Untuk menyelesaikan permasalahan di DKI Jakarta itu sungguhlah rumit. Ibarat benang yang telah kusut tercampur aduk, dan kini tugasnya adalah memisahkan dan membereskan masalah itu satu-satu. Perubahan yang aku coba lakukan adalah dengan memberikan stimulus kepada masyarakat tentang kebersihan. Menghimbau dan juga turut serta tidak membuang sampah sembarangan. Membuang sampah pada kantong celana ataupun tas. Hal kecil itulah bisa dijadikan sebuah kebudayaan yang bernilai indah. Selain masalah kebersihan akan sampah, kebersihan untuk tidak membuang kotoran/hajat/ludah di sungai, di jalan ataupun di pohon. Karena ketika hal itu dilakukan dengan membuangnya sembarangan, maka akan menimbulkan sumber penyakit dan terutama banjir di saat hujan turun.
Permasalahan kedua, mengenai fasilitas. Bagaimana caranya menyadarkan masyarakat untuk tidak merusak fasilitas umum dan juga tidak mencoret-coret tembok atau apapun itu yang bukan milik kita. Selain itu juga untuk tidak menempel brosur ataupun kertas-kertas di tempat yang bukan seharusnya digunakan. Karena tiap-tiap titik lokasi strategis di DKI Jakarta akan dibuatnya mading jalan. Agar lebih rapih dan kreatif lagi dalam menyampaikan informasi pada masyarakat.
Permasalahan ketiga, mengenai transportasi. Melihat begitu ramainya alat transportasi di ibukota, rasanya benar-benar membuat kepala kita pusing. Terkadang klakson dibunyikan cukup keras dan panjang. Solusinya, bagi para pengguna jalan adalah untuk tidak menggunakan jalanan transjakarta. Karena transjakarta merupakan transportasi yang sudah di khususkan mengurangi kemacetan. Pelaku yang melakukan pelanggaran akan dikenai sanksi lebih berat lagi jika menggunakan arena transjakarta. Selain itu juga, dihimbau kepada masyarakat untuk tidak menggunakan mobil pribadi, serta memberlakukannya three in one (three in one ini akan ditambahkan lagi di daerah rawan kemacetan). Bagi pengguna motor, sebaiknya untuk menggunakan motor lebih bijak dalam pemasangan suara-suara yang bising untuk diganti yang biasa saja. Selain itu juga, biasakan hidup sehat dengan melakukan perjalanan jalan kaki (jika jarak menempuh lokasi cukup terjangkau).
“Mulailah dari diri sendiri, mulai saat ini dan mulailah mengerjakan” itulah yang akan aku sampaikan pada masyarakat ibukota DKI Jakarta. Aku tidak akan pernah menjanjikan kepada masyarakat dalam masa kampanye. Namun, saya akan menyampaikan, 3 hal yang perlu kita ubah dan kita mulai dari sekarang seperti paparan yang di atas. Karena pada dasarnya program yang dirancang dengan muluk-muluk, biasanya tidak akan berjalan dengan baik. Jika saya tidak terpilih, himbauan ini tetap akan aku sampaikan kepada masyarakat, dan jika terpilih, aku akan menjalankan program yang pembangunannya cukup besar, seperti halnya fasilitas pendidikan, kesehatan, tempat ibadah dan lain-lainya. Hal ini akan menjadi kejutan buat warga Jakarta ketika program besar ini dilaksanakan. Pada dasarnya manusia berusaha dan Tuhan yang menjadi penentu segalanya.
Komentar
Posting Komentar