Langsung ke konten utama

Kisah Nyata: BUS keluar ASAP [panikkkk @#$%^^]

Rabu, 25 Juli 2012

(gambar bus diambil dari google)


Part 1.

Aku terkunci di dalam rumah. Ibuku pergi mengantarkan adikku ke sekolah. Beliau mengunciku dari luar dan lupa meletakkan kunci cadangan. Hufffff >,<
muncul ide konyolku untuk meloncat dari lantai 2, tapi kuurungkan kembali niat itu. Haha nanti disangka aku mau melakukan tindakan konyol bunuh diri lagi! Belum lagi-sejenak berpikir, yakin nih mau loncat? Haha emangnya empuk tuh aspal jalanan? Lalu adakah yang akan menangkapku di bawah? Imajinasiku mulai bermain, yaiya kali ada pangeran gituh yang nangkep. HoHoHo o,O

Akhirnya aku meloncat ke rumah sebelah, yaitu rumah My Aunt alias Tanteku. Aku mencoba mengetuk pintu dan memanggil tanteku. Waduh, ternyata kosong -__-" makin bingung. Waktu terus berjalan tanpa henti dan aku kesiangan ke kampus. Hehehe

Alhamdulillah, ternyata ada yang menyahut, Tanteku ada di bawah. Lalu muncullah dialog antara aku dan Tanteku. Singkatnya aku berhasil keluar dari rumah, yeeyy horreee \\(^_^)//

Tanteku menawarkan untuk berangkat bareng. Karna kebetulan Tanteku akan berta'ziyah ke rumah temannya yang telah meninggal dunia. Innalillahi wainna ilaihi rojiuun. Deg! Hati ini rasanya berdebar ketika mengingat kematian!

Sebelum berangkat, Ibuku akhirnya datang. Aku pun pamit.

Disepanjang jalan, Tanteku mengendarai motornya dengan cepat, rasanya seperti naek rolling coster wahana dufan! Angkot pun didahuluinya. Astaghfirullah, innalillahi wainna ilahi rajiuun. Ucapku kaget. "Ima gak mau mati dulu Tan,.." ucapku. Tanteku menenangkanku. "Iya, maaf.. Tante buru2. Putri aja udah biasa". Aku cuma bisa mengelus dada.

Dihalte busway plumpang, aku menunggu bus transjakarta. 2 menit kemudian bus pun datang. Aku masuk dan berpegangan pada pegangan yang menggantung, karna aku gak dapet tempat duduk. Kemudian aku membalas sms dari temanku, Amel. Tapi setelah itu seorang perempuan di depanku menunjukkan bahwa dibelakangku ada bangku kosong. Aku menoleh ke belakang, dan kulihat ada. Namun sayangnya diapit dua orang yang badannya cukup besar dariku. Aku mencoba meminta mereka bergeser. Hap! aku pun duduk.

Tak lama, tiba-tiba supir bus menghentikan laju bus. Aku menengok ke arah supir itu. Kukira bus berhenti karena ada yang menyeberang. Ternyata dibagian sebelah kiri bus, tampak asap keluar. Supir bus membuka pintu dan turun dari bus. Aku dan penumpang lainnya masih tetap di dalam bus.

Asap makin mengebul dan berbau gas menyengat. Ada seseorang penumpang perempuan berteriak, "awas kebakaran.." Kami pun panik. Penumpang perempuan kini berebut keluar dari bus melalui pintu supir. Bangku supirpun diinjek-injek. Aku pun berbuat demikian. Penumpang laki-lakinya pun sebagian turun dari bus meloncat dari pintu. Petugasnya pun demikian. Hadeehh, ada-ada aja. Kami pun menjauhi bus. Kami pikir dan takut kalo itu bus akan meledak. DOORR! Lalu aku mencoba menghubungi Ibuku. Entah apa yang aku pikirkan, aku hanya ingin menelpon Ibuku. Tapi telponku tak diangkat!

Ternyata nggak meledak! Hanya saja muncul asap. Supir bus pun mencoba menenangkan kami dan meyakinkan kalo busnya nggak akan terjadi apa2. Akhirnya pintu bus yang disebelah kiri dibuka. Supir bus menggiring kami masuk ke dalam bus. (berasa kambing ya? digiring. Haha).

Akhirnya aku dan penumpang lainnya menunggu di dalam bus. Nafasku agak sesak. Karena bau gas masih terasa. Kuperhatikan semua penumpang sibuk dengan gadgetnya alias handphone. Ada yang menelpon, sms, dan mungkin aja ada yang update status. Hahaha. Aku tertawa dalam hati, di saat panik penumpang mengingat Tuhannya. Masing-masing menyebut Tuhan. Aku juga sih. Istighfar. Kini, mereka sibuk dengan handphone masing-masing.

Akhirnya bus lainnya datang. Kami dioper. Aku bernafas lega. Alhamdulillah....

Tapi entah kenapa aku rasanya ingin tertawa kalo mengingat kejadi itu. Lucu sekali. Perempuan itu mudah panik ya? Aku mengambil kesimpulan.

Part 2.

Pulang. Yeah, akhirnya selesai juga agenda di kampus. Setelah sholat ashar, aku berencana pulang ke rumah. Sebelum hendak bergegas pulang, Mbak Ocha menawarkanku pulang bareng. Karena kami satu arah dan aku bisa nebeng. Yeee, bisa irit ongkos. Hehehe pikirku.

Akhirnya aku mencari helm ke sekret BEM FIS. Aku meminta Ka Rasyid mengambilkan helm. Ka rasyid bertanya, "pulang sama siapa?" "Siapa aja boleh.. Mau tau banget ka? :D ucapku hehehe.

Aku menunggu Mbak Ocha di lobby depan ICA dengan ditemani Resti, Icha, dan Muiz. Kami pun bercakap-cakap dan kemudian Mbak Ocha menghampiriku. Dia menceritakan bahwa ada syuro bersama LDK. yaahh.. sirna sudah harapanku. hehe lebay deh... tadinya mau nunggu mbak ocha selesai syuro, tapi akhirnya kuputuskan tuk pulang duluan. Helm pun aku titipin ke Ka Afifah yang kebetulan akan kembali ke sekret BEM FIS mengambil handphonenya yang tertinggal.

Singkatnya. Aku menunggu bus metromini 03. Aku males naik bus transjakarta. Pasti nunggunya lama dan antri. Belum lagi, tadi pagi bus yg aku tumpangi keluar asap. Jadi rada kapok deh...

Metromini 03 datang, aku pun naik. Duduk disamping seorang Ibu. Di rawasari, ibu itu turun. Aku bergeser duduk di dekat jendela. Lalu, seorang lelaki muda duduk disampingku. Nampaknya ia sehabis pulang kerja. Hmm.... apa hayo? biasa aja ah..

Perjalanan pun di mulai kembali. Tiba-tiba 5 menit kemudian, bus metromini yang aku tumpangi itu bersuara tak lazim. Gimana ya bunyinya?
Kkkkkkkkkkrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr...... begitu kira-kira. Suaranya tak mau berhenti dan makin keras. Membuat telinga rasanya pengang sekali.

Supir pun mengehentikan lajunya menjadi pelan. Namun itu tak berhasil mendiamkan suara itu (seperti suara besi yang bergeser deh). Tiba-tiba bus mengeluarkan asap. Awalnya sedikit, lama kelamaan asapnya membesar. Sontak penumpangnya langsung kaget dan panik. Berhamburan turun. Lelaki disampingku juga langsung kabur. Apalagi aku? Rasanya gemeteran, panik. Aku berlari menjauhi bus. Penumpang yang lainnya juga. Kobaran asap makin mengebul. Para pengedara motor & mobil yang melewati bus berasap itu melaju dengan kencang. Takut itu busnya meledak atau terbakar.

Aku memandangi mentromoni 03 itu dari jarak 10 meter. Salah seorang berkata, "Ohh.. pantes. yang bawa seorang kakek..". Aku terdiam. Masya Allah kasian sekali supirnya.

Banyak penumpang yang berlari dan meninggalkan bus itu tanpa membayar terlebih dahulu ke supirnya. Aku ragu untuk mendekati supir itu. Supir itu juga nampak panik. Tapi salah satu seorang kulihat ada yang berani memasuki bus itu. Mungkin untuk mengecek apa yang terjadi dengan bus itu.

Ekspresiku datar. Rasanya ingin menangis, tapi itu nggak boleh terjadi. Ah, cengeng! Padahal kan aku selamat. Alhamdulillah.. tapi bagaimana nasib kakek supir metromini itu? Aku pun meneteskan air mata di perjalanan metromini 03 yang kutaiki lagi......

Ya Allah, ada apa ini? Bus yang kutumpangi 2x dalam sehari mengalami hal yang sama. Mengapa? Belum lagi, tadi pagi sesampainya di kampus aku menceritakan kejadian yang ku alami kepada teman-teman dan ada salah satu dari mereka bercanda mengatakan hal ini, "Wah, nanti pasti heboh nih ima masuk koran. Beritanya gini. Seorang Mahasiswa UNJ tewas terbakar di busway.." Masya Allah.. Rasanya mau nangis, yang kudapatkan gelar Alm (almarhumah) bukan SPd (Sarjana Pendidikan).

Huaaa, aku masih belom siap pulang kampung ke alam akhirat.
hiksss,, hiksss,, :'(

Kamis, 26 Juli 2012.
Aku nggak berangkat ke kampus. Berasa shock gitu...
Seharian ini aku di rumah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL : HIPERNOVA Sang Paradoks, Pesujud dan Monotheisme

JUDUL BUKU : HIPERNOVA | PENULIS : FARIZA AULIA JASMINE TEBAL BUKU : 230 HALAMAN | PENERBIT : TIGA SERANGKAI TAHUN TERBIT : 2018  GENRE : RELIGI, FIKSI | NILAI : 4/5      Tuhan tidak lain hanyalah proyeksi manusia. Begitulah pandangan Novae, sosok perempuan yang berprofesikan model terkenal penderita albino. Ia telah kehilangan kepercayaannya terhadap Tuhannya. Berawal sejak peristiwa yang telah terjadi yang dialaminya pada tragedi tsunami di Aceh tahun 2004. Selain itu ia juga kehilangan saudara-saudaranya dan juga keyakinannya sendiri terhadap hidup.      “Selain Tuhan adalah proyeksi manusia, saat ini ketuhanan menjadi ajang bisnis bagi para umat ‘berkostum’ laksana malaikat, padahal lebih menyeramkan dari kostum hallowen . Mereka memasang karakter, image , bahkan menjual ayat-ayat yang disebut suci untuk sesuap nasi. Sialnya, banyak orang yang menyanggupi menggelontoran uang bernominal sangat besar sebagai konsumen mereka. Oh... sungg...

Eksistensi VS Figuritas

 “Saat diamnya penjual es teh mampu menjatuhkan sosok pendakwah yang sombong. Maka di situlah Allah munculkan the power of netizen .” Video viral yang kini beredar mengenai penjual es teh menjadi sorotan tajam bagi netizen. Hal itu terjadi karena adanya perundungan verbal di ruang publik oleh sosok yang namanya tersematkan ‘Gus’. Situasi tersebut semakin memanas, saat video lainnya juga muncul dan menampilkan hal serupa di mana sosok yang bernama Miftah Maulana Habiburrohman, atau lebih dikenal dengan Gus Miftah, adalah seorang mubaligh dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman melontarkan kata-kata yang kasar pada lawan bicaranya. Adab dulu baru ilmu adalah Al adabu Fauqol 'ilmi. Pepatah ini mengandung makna bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Hal ini kembali menjadi nasehat terbaik bagi kita dalam berinteraksi di masyarakat. Sebab mulutmu adalah harimaumu menjadi senjata mematikan yang dapat membunuh siapa saja, bagi mereka yang tak mampu menahan diri berucap kasar dan m...

Kecil tapi Nyata

Kecil tapi Nyata.... Suatu hari, seorang pemuka agama dimintai bantuan oleh seorang wanita malang yang tidak punya tempat berteduh. Karena sangat sibuk, pemuka agama itu berjanji akan mendoakan wanita tersebut. Beberapa saat kemudian wanita itu menulis puisi seperti ini : Saya kelaparan ... dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya Saya tergusur ... dan Anda ke tempat ibadah untuk berdoa bagi kebebasan saya Saya ingin bekerja .... dan Anda sibuk mengharamkan pekerjaan yang Anda anggap tidak pantas, padahal halal dan saya membutuhkannya Saya sakit ... dan Anda berlutut bersyukur kepada Allah atas kesehatan Anda sendiri Saya telanjang, tidak punya pakaian ... dan Anda mempertanyakan dalam hati kesopanan penampilan saya, bahkan Anda menasehati saya tentang aurat. Saya kesepian ... dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah tetapi saya tetap amat lapar, kesepian, dan kedingi...