Langsung ke konten utama

Kisah Nyata: Perjalanan kakiku UNJ - Rumah [[Nazar IP Pertama]]

Mau curhat lagi nih, ini pengalaman yang luarbiasa yang pernah aku lakukan lhooo :D
Jalan kaki dari kampus tercinta UNJ hingga ke rumah. Subhanallah yaaa :)
Mungkin menurut sebagian orang ini konyol dan gila! HaHaHa yaps, buatku nggak masalah. Yang penting aku nggak menyusahkan orang lain.

Berawal dari kisahku ketika menunggu bus transjakarta di BPKP yang arahnya ke tanjung priok. Saat itu, rasanya menjengkelkan sekali. Hampir satu jam aku menunggu! Namun bus tak kunjung datang. Antrian pun makin memanjang, bagaikan antri BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang diberikan pemerintah untuk rakyatnya yang 'miskin'. Ketika bus datang, isi bus di dalamnya penuh sesak. Jadi hanya bisa dimasuki oleh beberapa orang saja. Hufff (menghela nafas) >,<
Inilah kota Jakarta! Penuh dengan lika-liku kehidupan. Kudu bersabar dan harus punya kepala dingin. Tahan emosinya bung! Tarik nafas, keluarkan perlahan... duttt.. salah lubang jadinya buang gas alam! LOL :D

"Mungkin kalo gue jalan kaki, pasti udah nyampe nih.." ucapku dalam hati.
"Cuma lurus doang, terus belok kiri. Kayaknya seru kali ya jalan kaki pulang ke rumah! Kapan yaa? Cari momen yang tepat ah... HoHoHo :D"

Berawal dari ucapan dalam hatiku. Ciee. HaHa.

Akhirnya aku mencari momentum yang paling tepat dan yang paling dinanti-nantikan oleh banyak mahasiswa. Khususnya mahasiswa baru, seperti aku ini yang masih labil. Hehehe

Saat itu, Jum'at, 20 Januari 2012. Ada isu terkait beasiswa. Aku mencoba untuk mendaftarkan diri dan mengurus hal-hal administrasi yang diperlukan. Ke sana-sini berburu tanda tangan, lalu mendatangi tempat foto copy. Bolak sana, balik sini. Lari sana, lari sini. Mengejar waktu! Lho? Emangnya waktu bisa dikejar yaa? Salah nih, maksudnya mengejar target. Karena waktunya mepet dan aku ketinggalan informasi yang sangat penting ini.

"Pah, nampaknya hari ini kakak pulang telat dan agak sorean. Karena lagi nadzar nih, kalo IP dapet di atas 3,0 mau jalan kaki pulang ke rumah. Dari UNJ ke rumah. Do'akan yaa, semoga IP di atas 3,0. IP pertama nih.. hehe" sms ke Babeh.

"Kalo nadzar, jangan aneh2 kak... Kamu macem2 aja. Hari ini kak?"

"Iya pah, setelah sholat jum'at.. Do'akan yak :)"

Percakapan singkat via sms dengan My Babeh. Hohoho. Mau sms ke My Nyak, tapi nggak jadi. Takut bikin khawatir... i'm sorry mom :')


Akhirnya kudapatkan transkip nillai dari BAAK!
Rasanya deg-deg-an nggak karuan nih, mencoba menerka. Kira-kira dapet berapa yaa?
Sebelumnya aku menunggu di depan BAAK dengan teman-teman sekelasku. Amel, Erfina, Dwi. Ketika itu yang pertama kali dapat kertas transkip nilai itu Dwi dengan IP 3,24. Disusul dengan Amel 3,43 dan Erfina 3,67. Alhamdulillah mereka dapat IP diatas 3,0.

Bagaimana dengankuuuu??
ALHAMDULILLAH yah, aku dapat IP 3,62 \\(^_^)//

Meskipun masih ada yang IP nya lebih tinggi dariku, tapi ini awal yang indah :))

"Pah.. Alhamdulillah.. Ima dapet IP 3,62." aku pun langsung sms Babeh.
 "Kamu jadi jalan kaki?" balas Babehku.

"Lha, bukannya ngasih selamat. Ini malah nanya gitu, haha.." tawaku dalam hati.
"Iya pah.. Insya Allah. Do'akan yaaaa :) " balasku lagi.

 Setelah aku melaksanakan sholat dzuhur, aku bergegas bersiap-siap, menunaikan nazarku yaitu pulang jalan kaki hingga rumah! aku mencoba meminjam payung pada Erfina. Karna pikirku, siang ini cukup panas. Tasku sudah cukup berat dengan berisikan laptop dan berkas-berkas lainnya. Jadinya payung kupegang sepanjang jalan. Ini hasil jepretanku selama diperjalanan.

 Foto ini diambil, saat beristirahat di sebuah warung sambil membeli air mineral.  Istirahat pertama nih, setelah sepanjang perjalanan tidak berhenti. Akhirnya ngaso dulu, hehe


ini juga lhooo, seger banget deh minum air dingin. Ohiya, akhirnya sepanjang jalan aku nggak menggunakan payung. karena langit begitu cerah dan sejuknya. Subhanallah, langkahku begitu ringan...

 Mulai berjalan kembali ....


 Di jalan dekat kampus IBii

Mulai melewati kampus IBii



Kampus IBii

inilah aku, HoHoHo
di dokumentasikan oleh seseorang yang tak dikenal ketika berpapasan (mbak2)

 Melewati Artha Gading

 menuju daerah sunter

Istirahat kedua, dipinggir jalan. haha mulai kerasa gak enak nih kaki, jempol mulai senut-senut

Jepretan terakhir. Udah mulai fokus sama jempol kaki. HaHaHa
ini daerah sunter di deket carefour...


Itulah perjalananku. Melewati setiap batu kerikil jalanan, diterpa debu dan asap kendaraan. Namun, cuaca begitu cerahnya. Hingga aku optimis berjalan hingga sampai di rumah. Pengalaman yang luarbiasa, hehehe

Ohiya, pas udah lewat Sunter Mall, di jembatannya ketemu teman SD. Akhirnya kami jalan bareng hingga ke rumah. Kebetulan aku dan Endah masih satu RW. Jadi pulangnya ada temennya deh. HaHaha semakin mendekati rumah, semakin senut-senut nih kaki. Suerrr dehh..

Hingga di rumah, aku melihat jam pada handphoneku. Ternyata perjalanan jalan kaki dari UNJ hingga rumahku (jalan papanggo 3 C Rt007 Rw05) itu 3 jam 40 menit. Cukup melelahkan!

Keesokan harinya, ketika aku menapakkan kakiku dibumi, terasa kakiku bengkak, nggak karuan. Hehehe wajarlah. Tapi itu semua nggak membuatku kapok! Kan akhwat tangguh?! Spirit Never Ending!!!

Sekian dan terimakasih.
Apa ceritamu di IP pertamamu??

-Mahasiswa Labil-


Komentar

  1. assalamu'allikum,
    halo kakak ima :)
    ceritanya keren nih,
    ajarin bikin blog dong. blog saya sih ancur-ancuran

    BalasHapus
  2. wa'alaikumussalam.
    hallo juga, hehe ini juga masih belajar kaka :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL : HIPERNOVA Sang Paradoks, Pesujud dan Monotheisme

JUDUL BUKU : HIPERNOVA | PENULIS : FARIZA AULIA JASMINE TEBAL BUKU : 230 HALAMAN | PENERBIT : TIGA SERANGKAI TAHUN TERBIT : 2018  GENRE : RELIGI, FIKSI | NILAI : 4/5      Tuhan tidak lain hanyalah proyeksi manusia. Begitulah pandangan Novae, sosok perempuan yang berprofesikan model terkenal penderita albino. Ia telah kehilangan kepercayaannya terhadap Tuhannya. Berawal sejak peristiwa yang telah terjadi yang dialaminya pada tragedi tsunami di Aceh tahun 2004. Selain itu ia juga kehilangan saudara-saudaranya dan juga keyakinannya sendiri terhadap hidup.      “Selain Tuhan adalah proyeksi manusia, saat ini ketuhanan menjadi ajang bisnis bagi para umat ‘berkostum’ laksana malaikat, padahal lebih menyeramkan dari kostum hallowen . Mereka memasang karakter, image , bahkan menjual ayat-ayat yang disebut suci untuk sesuap nasi. Sialnya, banyak orang yang menyanggupi menggelontoran uang bernominal sangat besar sebagai konsumen mereka. Oh... sungg...

Eksistensi VS Figuritas

 “Saat diamnya penjual es teh mampu menjatuhkan sosok pendakwah yang sombong. Maka di situlah Allah munculkan the power of netizen .” Video viral yang kini beredar mengenai penjual es teh menjadi sorotan tajam bagi netizen. Hal itu terjadi karena adanya perundungan verbal di ruang publik oleh sosok yang namanya tersematkan ‘Gus’. Situasi tersebut semakin memanas, saat video lainnya juga muncul dan menampilkan hal serupa di mana sosok yang bernama Miftah Maulana Habiburrohman, atau lebih dikenal dengan Gus Miftah, adalah seorang mubaligh dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman melontarkan kata-kata yang kasar pada lawan bicaranya. Adab dulu baru ilmu adalah Al adabu Fauqol 'ilmi. Pepatah ini mengandung makna bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Hal ini kembali menjadi nasehat terbaik bagi kita dalam berinteraksi di masyarakat. Sebab mulutmu adalah harimaumu menjadi senjata mematikan yang dapat membunuh siapa saja, bagi mereka yang tak mampu menahan diri berucap kasar dan m...

Kecil tapi Nyata

Kecil tapi Nyata.... Suatu hari, seorang pemuka agama dimintai bantuan oleh seorang wanita malang yang tidak punya tempat berteduh. Karena sangat sibuk, pemuka agama itu berjanji akan mendoakan wanita tersebut. Beberapa saat kemudian wanita itu menulis puisi seperti ini : Saya kelaparan ... dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya Saya tergusur ... dan Anda ke tempat ibadah untuk berdoa bagi kebebasan saya Saya ingin bekerja .... dan Anda sibuk mengharamkan pekerjaan yang Anda anggap tidak pantas, padahal halal dan saya membutuhkannya Saya sakit ... dan Anda berlutut bersyukur kepada Allah atas kesehatan Anda sendiri Saya telanjang, tidak punya pakaian ... dan Anda mempertanyakan dalam hati kesopanan penampilan saya, bahkan Anda menasehati saya tentang aurat. Saya kesepian ... dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah tetapi saya tetap amat lapar, kesepian, dan kedingi...